|
MAAFKANLAH SAUDARAMU “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (Qs. Al-A’raaf:199) Maha Agung Allah Yang telah menampakkan kasih dan sayang-Nya di alam raya ini. Semua makhluk di alam ini menikmati indahnya kehidupan. Air gemiricik pegunungan yang tak kunjung henti mengalir, memberikan kehidupan di sepanjang alirannya. Pepohonan yang menghijau seraya melambai-lambai ditiup angin kecil. Pantulan warnanya menyegarkan mata siapa pun yang memandang, menyuburkan cinta dan membunuh rasa marah dan dengki.
Marah dan dengki takkan mungkin berkumpul dalam satu wadah dengan sifat pemaaf. Karena sifat pemaaf merupakan anugerah Allah yang teramat besar. Memaafkan akan senantiasa menumbuhkan cinta, melanggengkan ketenangan, dan melembutkan hati. Bahkan, menyembuhkan berbagai penyakit badan.
Ibnu Masud pemah mendapat pelajaran dari Rasulullah tentang keteladanan seorang Nabi. Kesan itu ia tuturkan dalam ucapannya yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim. "Saya seolah-olah masih melihat Rasulullah saw mencontohkan tentang salah seorang Nabi, semoga Allah melimpahkan rahmat dan kesejahteraan-Nya kepada kaum yang memukul Nabi itu sampai berdarah. Sambil mengusap darah yang mengalir di mukanya, Nabi itu berdoa, 'Ya Allah, ampunilah dosa kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui."
Selain lbnu Mas'ud, Aisyah r.a. pernah menceritakan kepada para sahabat tentang akhlak Rasulullah saw. "Rasulullah saw tidak pernah memukul apa pun dengan tangannya. Beliau juga tidak pernah memukul isteri-isteri dan pelayannya. Kecuali apabila beliau berjihad di jalan Allah. Dan beliau sama sekali tidak pernah membalas orang yang mengganggunya, kecuali bila apa yang telah diharamkan Allah itu dilanggar, maka beliau menghukum karena Allah Ta'ala." (HR. Muslim)
Subhanallah. Betapa agung dan mulianya akhlak Baginda Rasulullah saw. Keteladanannya menebarkan pelajaran yang teramat mahal tentang maaf. Air kesejukannya menanti kita untuk sama-sama meneguknya, membasahi dahaga hati yang mulai kering kerontang.
Maafkanlah saudara kita. Karena memafkan sama sekali tidak mendatangkan kerugian. Justru, berbagai keuntungan mengalir. Di antaranya adalah:
1. Menenteramkan hati
Hati yang kecewa akan selalu gelisah. Dan kegelisahan akan menggiring batin seorang mukmin menjadi tidak nyaman. Pikiran pun tak lagi mampu jernih seratus persen. Ada sesuatu yang mengganjal. Dan ganjalan-ganjalan inilah yang membuat hidup menjadi kurang nikmat.
Berbeda dengan hati yang pemaaf. Memaafkan kesalahan orang lain, terlebih lagi kepada seorang mukmin, menjadikan hati tenteram. Tenang tanpa resah dan gelisah. Pikiran menjadi segar dan jernih. Hidup pun menjadi teramat nikmat.
2. Mengikis sifat sombong
Ada perasaan tersembunyi ketika seseorang di persimpangan jalan, apakah rela memberi maaf atau tetap dalam kecewa yang berkepanjangan. Rasa tersembunyi itu adalah merasa diri begitu rendah. Bagaimana mungkin bisa lahir maaf terhadap seseorang yang telah melukai hati. Luka raga ada obatnya, tapi luka hati susah diobati. Merasa rendah dan kalah ketika memaafkan itulah yang membuat seseorang menjual maaf dengan harga tinggi. Saat itulah, lahir rasa besar diri. Dan di saat yang sama, terselip sifat sombong.
Memaafkan kesalahan saudara sendiri, betapa pun besarnya luka goresan hati, tidak akan menjadikan diri rendah. Justru, nilai diri si pemaaf akan meroket, melesat jauh di atas orang yang minta maaf. Kerendahan hati tidak akan membuat nilai diri menjadi rendah. Bukankah tangan si pemberi berada di atas si penerima.
3. Menyuburkan cinta dengan saudara mukmin
Cinta kepada saudara mukmin punya nilai yang teramat tinggi. Bahkan, senilai dengan keimanan. Maha Suci Allah yang telah menganugerahi kita sosok teladan, Rasulullah saw. Keteladannya meliputi perbuatan dan ucapannya. Baginda Rasulullah pernah bersabda, "Tidaklah beriman seseorang di antara kamu, hingga mencintai saudaranya sebagaimana mencintai diri sendiri."
Memaafkan merupakan salah satu bentuk perwujudan cinta. Karena orang yang mencintai sesuatu akan rela memberikan apa pun. Maaf adalah sesuatu yang mahal. Tapi, kemahalan itu tak akan berarti apa-apa dibanding cinta. Dan cinta seorang mukmin kepada saudaranya akan mendorongnya berkorban dengan maaf. Di saat yang sama, cintanya kian bertambah dan terus bersemi dalam kesuburan iman.
4. Kian mendekatkan diri pada Allah
Tidak ada sesuatu yang lebih mendekatkan diri seorang hamba Allah pada Rabbnya kecuali dengan melakukan perbuatan yang sangat dicintai Allah. Dan memaafkan adalah sesuatu yang dicintai Allah. Karena, Allah Maha Pemberi maaf. Kasih sayang Allah mengalahkan marahNya.
Rasulullah saw pernah menggambarkan bagaimana Allah swt begitu rindu dengan hamba-hamba-Nya yang minta maaf, sebesar apa pun kesalahannya. "Sesungguhnya Allah Ta'ala membentangkan tanganNya pada waktu malam untuk menerima tobat orang yang berdosa pada waktu siang, dan Ia membentangkan tanganNya pada waktu siang untuk menerima tobat orang yang berbuat dosa pada waktu malam, sampai matahari terbit dari barat (hari kiamat)." (HR. Muslim)
Surga yang luasnya seperti langit dan bumi telah Allah sediakan buat mereka yang bertakwa. Yaitu, mereka yang dengan penuh ikhlas menafkahkan hartanya di saat lapang atau sempit, orang-orang yang menahan amarahnya, dan memafkan orang yang berbuat salah padanya. (QS. Ali Imran: 134).
Masihkah memaafkan itu hadir pada hati kita? wahyuafr
|