|
Oleh : Muhamad Abduh*
Bismillahirrahmaanirrahiim. Amma ba'du. Krisis keuangan Amerika kini telah meluas menjadi krisis keuangan global. Pasar modal di Amerika, Eropa, asia dan beberapa Negara di Amerika Selatan rontok. Pasar modal London mencatat rekor kejatuhan terburuk, sedangkan Jerman dan Prancis masing-masing seakan dirobohkan dengan kejatuhan pasar modalnya sebesar 7% dan 9%. Rusia, Argentina dan Brazil juga mengalami keterpurukan yang sangat parah yaitu 15%, 11% dan 15%. Malaysia sedang bersiap untuk mematok Ringgit pada satuan tertentu dalam Dollar seperti krismon 97-98 lalu. Di Indonesia, pemerintah bahkan sempat menutup Jakarta Composite Index (JCI) secara mendadak, JCI muntah darah akibat Dowjones demam. Inilah krisis terparah dalam 1.5 abad ke belakang menurut pengakuan IMF. Mengapa hal ini dapat terjadi?
Kalau kita cermati, ternyata semua ini bermula dari kegemaran kapitalisme pada bunga, berjudi, dan keserakahan, serta kecintaan liberalisme pada apa yang disebut "deregulasi/freedom". Semuanya ibarat satu tubuh, tak dapat dipisahkan. Tidak ada kapitalisme tanpa bunga, berjudi, dan keserakahan, dan tidak ada liberalisme tanpa deregulasi. Sifat serakah telah membuat masyarakat kapitalis tidak pernah puas dengan dunia, serta dengan slogan deregulasi/freedom mereka bebas menipu masyarakat dan memberi laporan keuangan palsu kepada pasar. Namun ada yang menarik dibalik ini semua, ternyata lembaga keuangan Islam di berbagai belahan dunia hampir-hampir tidak merasakan dampak krisis ini. David Testa, chief executive of Gatehouse Bank (salah satu Bank Syariah di Inggris) mengatakan pada The Herald Tribune," The current global market condition has given Islamic finance a great opportunity to show what it can do - help to fill the liquidity gap."
Lalu ada apa dengan keuangan Islam? atau lebih luasnya lagi, ada apa dengan Ekonomi Islam? Benarkah krisis ekonomi yang terjadi di amerika saat ini merupakan akhir dari status quo kapitalisme-liberalisme? Benarkah program penyelamatan (bailout) USD 700 billion oleh Bush dan kroninya merupakan jalan keluar yang sebenarnya? Apakah sudah saatnya Ekonomi Islam bangkit? Sampai saat menulis artikel ini untuk Buletin SAHABAT pun saya tetap meyakini bahwa segala perubahan itu tidak akan pernah terjadi tanpa usaha & kerja keras, dan kerja keras tidak akan pernah ada hasil tanpa adanya keyakinan dan kesungguhan akan apa yang kita kerjakan (QS. Ar-Ra'd [13]:11). Saat ini kita baru mengetahui betapa orang-orang pintar di sana ternyata belum cukup pintar untuk memahami bahwa bukan salah matematika dan model prediksi yang mereka gunakan sehingga krisis ini terjadi. Bukan juga salah para ahli manajemen resiko. Namun, sistem tempat dimana rantai dan jeruji roda itu bertemulah yang tidak tepat. Sehingga kesalahan demi kesalahan yang sebenarnya sama terus terulang kembali.
Di satu sisi, kapitalisme mungkin telah mendapat pelajaran keras tentang pentingnya keadilan dalam ekonomi, tentang buruknya bunga, judi, dan sifat serakah. Namun disisi lain, ekonomi Islam juga masih perlu waktu panjang untuk berbenah dan mempersiapkan segala sesuatunya. Jumlah SDM yang mau berjihad melalui jalan ini dan institusi yang mempersiapkan SDM nya pun masih jauh dari cukup. Oleh karena itu, keikut sertaan setiap individu Muslim adalah sebuah keniscayaan untuk mengangkat kembali kejayaan islam melalui pintu ekonomi. Wallahu Musta'an.
*Direktur Islamic Economic Forum for Indonesia Development (ISEFID), Kuala Lumpur.
|