|
Air Mata Wanita oleh : Yessi Tri Wahyudi Barangkali lelakilah, manusia yang paling miskin khazanah nuansa emosional. Realitas sosial secara sistematis membuat garis demarkasi yang ketat antara pria dengan airmata. Bahka dalam kamus hidupnya airmata terlanjur dipersepsikan sebagai ekspresi kecengengan dan kelemahan. Tengoklah kata, “Diam! Kamu laki-laki jangan menangis.” Atau, “Dasar cowok cengeng, sana nangis di ibumu!” Tiba-tiba setelah berumah tangga ia harus serumah dengan wanita, sosok yang sering memakai bahasa airmata. Pada banyak kondisi dan situasi arimatanya bisa tumpah ruah seolah tanpa batas. Maka disanalah bermula perjalanan misterius yang penuh kejutan. Pertama melihat airmata, ketika upacara ijab qabul berlangsung sakral. Entah mengapa ada bintik-bintik bening merebak, membasahi mata gadis pilihannya. Terfikir dalam hati : “Apakah wanita itu menyesal menikah denganku? Kalau tidak, lalu mengapa harus ada airmata?”. Kenapa mata sang istri sembab berlinang air ketika kepala suaminya berlumuran darah jatuh dari sepeda motor? Sementara ia sendiri merasa biasa-biasa saja. Mengapa matanya berkaca-kaca saat melepas rindu setelah lama berpisah? Sedangkan ia malah tertawa-tawa. Sang istri menangis setelah melahirkan bayi yang telah lama dinanti.
Sebagai suami pemula ia belum siap menerjemahkan bahasa airmata dengan sempurna. Betapa rumit logikanya menerima saat wanita meneteskan airmata, sambil memeluk bayi yang demam tinggi. Padahal obat penawar baru saja usai diberikan. Apakah airmata bisa mengurangi sakit? Tapi anehnya, wanita tidak menteskan airmata ketika suami di PHK, saat tergusur dari pondok kontrakan, susu bayi tiada, atau dapur yang mulai jarang berasap. Istri tidak menangis bla tiga tahun menikah belum selembar baju barupun dihadiahkan suami tercinta. Atau milad perkawinan yang dirayakan cukup dengan makan nasi dingin. Rumah kontrakan yang sering kebanjiran. Bahkan ketika dia “terpaksa” ikut serta memeras keringat menopang ekonomi keluarga yang timpang. Alhasil walaupun telah berumah tangga, ternyata sungguh rumit menakar harga airmata wanita dengan timbangan rasionalitas semata. Sebagai suami ia menyadari kewajibannya untuk mendidik, membina dan mencintai istri. Maka mau tidak mau ia harus menyelami kehidupan emosional dan karakteristik perasaan wanita, termasuk dimensi airmata. Walau disesali juga mengapa tidak ada mata kuliah hikmah airmata? Mana referensi buku-buku, atau hasil penelitian yang mengkaji makna tetesan bening dari pelupuk mata istri? Semula hanya berasumsi, semua wanita memang menangis tanpa ada alasan. Ternyata jawabannya ada di ensiklopedi kehidupan, serta kekayaan pengelaman yang direguk selama berumah tangga. Sedikit demi sedikit mulai di pahami. Sebenarnya airmata wanita adalah Airmata Kehidupan. Airmata kekuatan, untuk melahirkan bayi dari rahimnya. Airmata kehangatan bagi bayi dalam dekapan lembutnya. Airmata yang peka dan kasih, untuk mencintai dan merawat semua anak dan keluarga, dalam kondisi apapun, dan dalam situasi bagaimanapun. Walau letih, walau sakit, tanpa berkeluh kesah. Padahal tak jarang orang-orang yang dicintai itu menyakiti perasaannya, melukai hatinya. Airmata ketabahan, atas kesederhanaan hidup namun tak membuatnya minder dalam pergaulan. Apalagi mengurangi husnudzannya terhadap Allah. Airmata ketegaran, saat rumah tangga melewati masa-masa pancaroba, atau hampir karam oleh badai cobaan. Seperti tangisan bahagia Khansa’ (bukan sinetron) atas wafatnya suami dan tiga putera tercinta di medan laga, syahid demi membela kekasih sejati. Itulah airmata keperkasaan, yang membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah saat melalui masa-masa sulit. Kegetiran malah membentuk kepribadian yang tangguh. Airmata kesucian, sebagaimana tangisan Aisyah R.A ketika dituduh berselingkuh oleh kaum munafik. Sehingga menimbulkan kisruh dikalangan umat Islam bahkan Rasul pun hampir terpengaruh. Tapi Allah maha tahu. Airmata kesucian itu dikukuhkan kebenarannya oleh Al-Qur’an. Airmata yang bersumber dari mata air kehalusan perasaan ketika bersentuhan dengan hal-hal yang mengusik hati nurani. Tangisannya bukan karena kecengengan, tapi menunjukkan betapa halus dan lebutnya perasaan yang ia miliki. Wanita berfikir dengan hati dan merasa dengan fikirannya. Subhanallah! Sejauh perjalanan pernikahan ini, ia telah melihat hampir semua jenis airmata itu berkumpul pada sosok istri tercinta. Airmata yang akan terus menetes hingga membasahi hati. Sebagai refleksi atas ketawadhu’an, qona’ah, dan istiqamahan diri. Juga menumbuhkan ketulusan cinta yang luar biasa. Akhirnya ia berani menyatakan, “Andai wanita tanpa airmata, maka dunia akan berduka cita.” Tiba-tiba sang suami pemula itu ingin belajar menangis.
|